Selasa, 12 Januari 2010

Ceftriaxone

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, karena hanya dengan bimbingan dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan fase-fase dari obat “ TONAR “. Obat Tonar juga dapat menyembuhkan penyakit ginjal kronik.

Dalam menulis makalah ini, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sekalian sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada orang – orang yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini :

1. Orang tua yang selaku memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis

2. Teman – teman yang menmberikan semangat dan motivasi kepada penulis dalam membuat dan menyelesaikan makalah ini

3. Pihak lain dalam hal ini ruang perpustakaan yang sangat membantu penulis dalam membuat makalah ini

Akhirnya penulis menyampaikan permohonan maaf jika dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Dan penulis harapkan agar para pembaca dapat memakluminya. Terima kasih.

penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................................... i

Daftar Isi.................................................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan..................................................................................................... 1

Bab II Farmakologi obat ceftriaxone.........................................................................

2.1. Farmakokinetik........................................................................................

2.2. Farmakodinamik......................................................................................

2.3. Indikasi dan Cara Penggunaan................................................................ 3

2.4. Kontra Indikasi....................................................................................... 3

2.5. Efek Samping.......................................................................................... 3

2.6. Dosis dan Cara Pemberian...................................................................... 4

Bab III....................................................................................................................... : Penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK) 5

3.1. Pengertian................................................................................................ 5

3.2. Etiologi.................................................................................................... 5

3.3. Patofisiologi............................................................................................ 5

3.4. Manifestasi Klinis.................................................................................... 6

3.5. Diagnosis................................................................................................. 6

3.6. Patoflow.................................................................................................. 7

Bab IV....................................................................................................................... : Kesimpulan 8

Buku Sumber............................................................................................................. 9

BAB I

PENDAHULUAN

Ceftriaxone merupakan cephalosporin spektrum luas semisintetik yang diberikan secara IV atau IM. Kadar plasma rata-rata cetriaxone setelah pemberian secara tunggal infus intravena 0,5;1 atau 2 gr dalam waktu 30 menit dan IM sebesar 0,5 atau 1 g pada orang dewasa sehat. Ceftriaxone juga serupa dengan seftizoksim dan sefotaksim, mempunyai waktu paruh yang sangat panjang sehingga diberikan sekali / dua kali sehari.

BAB II

FARMAKOLOGI OBAT

“ CEFTRIAXONE “

FARMAKOKINETIK

Ceftriaxone diabsorpsi lengkap setelah pemberian IM dengan kadar plasma maksimum rata-rata antara 2-3 jam setelah pemberian. Dosis multipel IV atau IM dengan interval waktu 12-24 jam, dengan dosis 0,5-2g menghasilkan akumulasi sebesar 15-36 % diatas nilai dosis tunggal.

Sebanyak 33-67 % ceftriaxone yang diberikan, akan diekskresikan dalam uring dalam bentuk yang tidak diubah dan sisanya diekskresikan dalam empedu dan sebagian kecil dalam feses sebagai bentuk inaktif. Setelah pemberian dosis 1g IV, kadar rata-rata ceftriaxone 1-3 jam setelah pemberian adalah : 501 mg/ml dalam kandung empedu, 100 mg/ml dalam saluran empedu, 098 mg dalam duktus sistikus, 78,2 mg/ml dalam dinding kandung empedu dan 62,1 mg/ml dalam plasma.

Setelah pemberian dosis 0,15-3g, maka waktu paruh eliminasinya berkisar antara 5-8 jam, volume distribusinya sebesar 5,70-13,5 L, klirens plasma 0,50-1,45 L/jam dan klirens ginjal 0,32-0,73 L/jam.

Ikatan protein ceftriaxone bersifat reversibel dan besarnya adalah 85-95 %. Ceftriaxone menembus selaput otak yang mengalami peradangan pada bayi dan anak-anak dan kadarnya dalam cairan otak setelah pemberian dosis 50 mg/kg dan 75 mg/kg IV, berkisar antara 1,3-18,5 ug/ml dan 1,3-44 ug/ml

Dibanding pada orang dewasa sehat, farmakokinetik ceftriaxone hanya sedikit sekali terganggu pada usia lanjut dan juga pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal/hati, karena itu tidak diperlukan penyesuaian dosis.

FARMAKODINAMIK

Efek bakterisida ceftriaxone dihasilkan akibat penghambatan sintesis dinding kuman. Ceftriaxone mempunyai stabilitas yang tinggi terhadap beta-laktanase, baik terhadap penisilinase maupun sefalosporinase yang dihasilkan oleh kuman gram-negatif, gram-positif.

INDIKASI DAN CARA PENGGUNAAN

Ceftriaxone diindikasikan untuk pengobatan pada infeksi-infeksi dibawah ini yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti :

- Infeksi saluran napas bawah

- Infeksi kulit dan jaringan lunak

- Goneore tanpa komplikasi

- Penyakit radang rongga panggul

- Septikemia bakterial

- Infeksi tulang dan sendi

- Infeksi intra-abdominal

- Meningitis

Profilaksis operasi yaitu 1g dosis tunggal ceftriaxone dapat mengurangi angka kejadian infeksi pasca operasi pada pasien yang dioperasi dan dianggap terkontaminasi atau secara potensial terkontaminasi, misalnya : histerektoni vaginal atau abdominal dan pada pasien yang dioperasi dimana infeksi pada operasi tersebut menyebabkan risiko yang serius ( misal : selama operasi lintas arteri koroner ).

KONTRAINDIKASI

Ceftriaxone dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat alergi terhadap golongan cephalosporin.

EFEK SAMPING

Secara umum ceftriaxone dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat ditemukan adalah :

Reaksi lokal : Sakit, indurasi atau nyeri tekan pada tempat suntikan dan phlebitis setelah pemberian intravena.

Hipersensitivitas : Ruam kulit dan kadang-kadang pruritus, demam atau menggigil

Hematologik : Eosinofilia, trombositosis, lekopenia dan kadang-kadang anemia, anemia hemolitik, netropenia, limfopenia, trombositopenia dan pemanjangan waktu protrombia.

Saluran cerna : Diare dan kadang-kadang mual, muntah, disgeusia.

Hati : Peningkatan SGOT atau SGPT dan kadang-kadang peningkatan fosfatase alkali dan bilirubin.

Ginjal : Peningkatan BUN dan kadang-kadang peningkatan kreatinin serta ditemukan silinder dalam urin.

Susunan saraf pusat : Kadang-kadang timbul sakit kepala atau pusing.

Saluran kemih dan genital : Kadang-kadang dilaporkan timbulnya monitiasis atau vaginitis

DOSIS DAN CARA PEMBERIAN

Ceftriaxone dapat diberikan secara intravena atau intramuskular

* Dewasa : Dosis lazim harian untuk orang dewasa adalah 1-2g sekali sehari (atau dibagi dalam 2 dosis) tergantung dari jenis dan beratnya infeksi. Dosis total harian tidak boleh melebihi 4g. Untuk pengobatan infeksi gonokokal tanpa komplikasi, dosis yang dianjurkan adalah 250 mg intramuskular sebagai dosis tunggal, untuk profilaksis opersai, dosis yang dianjurkan adalah 1g sebagai dosis tunggal dan diberikan 0,5-2 jam sebelum operasi.

* Anak-anak : Untuk pengobatan infeksi kulit dan jaringan lunak, dosis total harian yang dianjurkan adalah 50-75 mg/kg sekali sehari (atau dibagi 2 dosis), dosis total harian tidak boleh melebihi 2g. Untuk pengobatan meningitis dosis harian adalah 100 mg/kg dan tidak boleh melebihi 4g, dosis diberikan dengan atau tanpa dosis muat 75mg/kg

Keterangan Umum Dosis : Secara umum terapi dengan ceftriaxone harus dilanjutkan paling tidak 2 hari setelah tanda dan gejala infeksi menghilang. Lama pengobatan terapi umumnya adalah 4-14 hari, dimana pada infeksi yang disertai dengan komplikasi terapi yang diperlukan akan lebih lama.

BAB III

“ INFEKSI SALURAN KEMIH “

* Pengertian

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu penyakit yang biasa terjadi pada saat organisme naik dari uretra ke kandung kemih. Sekali organisme mencapai kandung kemih, organisme ini akan berkembang biak dan meningkat, sehingga menyebabkan infeksi pada ureter dan ginjal. (Brunner and Sudarth).

* Etiologi

ISK mempunyai kerentanan terhadap infeksi organisme yang biasanya tidak patogenik masih sukar dimengerti. Organisme yang biasanya menyerang adalah bakteri terutama escherichia coli pada wanita. Sumber bakteri umumnya adalah flora feces penderita. Anomali struktur kongenital saluran kemih terutama yang menghambat aliran kemih, hal ini merupakan predisposisi terjadinya infeksi. Akan tetapi sebagian infeksi saluran kemih tidak ada hubungannya dengan abnormalitas fungsional atau struktural primer. Sebaliknya, beberapa abnormalitas anatomis/fungsional seperti penebalan dinding kandung kemih, refluks vesikoureter atau pola berkemih abnormal, merupakan gejala sisa infeksi.

* Patofisiologi

Infeksi rekuren pada kandung kemih dapat berakibat perubahan peradangan yang merusak hubungan anatomis ureter pada saat menembus dinding kandung kemih, sehingga terjadi inkompetensi katup vesikoureter. Keadaan ini memungkinkan refluks kemih ke dalam ureter terutama sewaktu berkemih, dengan akibat dilatasi ureter dan masuknya organisme kedalam saluran bagian atas. Sebagian besar merupakan infeksi asenden pada wanita. Jalur yang biasa terjadi adalah mula-mula kuman dari anal berkoloni di vulava, kemudian masuk ke kandung kemih melalui uretra yang pendek secara spontan/mekanik akibat hubungan seksual. Pada pria setelah prostat terkoloni maka akan terjadi infeksi asenden. Mungkin juga terjadi akibat pemasangan alat seperti kateter, terutama pada usia lanjut.

Wanita lebih sering menderita ISK, karena uretra yang pendek, masuknya kuman dalam hubungan seksual, dan mengakibatkan perubahan PH dan flora vulva dalam siklus menstruasi.

* Manifestasi Klinis

Gejala-gejala ISK dibedakan antara infeksi saluran kemih bagian bawah, dimana kandung kemih/uretra terinfeksi, dan infeksi saluran kemih atas yang meliputi infeksi pada ureter dan ginjal. Gejala ISK bawah biasanya, disuria, sering berkemih, nokturia atau nyeri pada pelvik atau suprapubis. Pasien dengan ISK atas, sering menunjukan gejala sistemik meliputi, demam, mual, muntah, sakit kepala dan lemah sesuai dengan keluhan spesifik dari nyeri di daerah panggul punggung bawah, dan abdomen

* Diagnosis

Diagnosis ISK umumnya tergantung pada identifikasi mikroorganisme, misalnya: sel darah putih dalam spesimen urine yang diambil langsung atau urine yang terdapat di kateter, urin yang langsung diambil tersebut sangat sulit diambil tanpa adanya kontaminasi, jumlah dari organisme digunakan untuk menggambarkan kemungkinan infeksi yang biasanya yaitu ada 100.000 unit koloni per milimeter (CFU/ml). secara umum ada sel darah putih (biasanya 710 wbc/mm3) dalam spesimen urine merupakan diagnostik kuat, dimana sel ini merupakan diagnostik kuat, dimana sel ini menandakan respons peradangan penjamu terhadap organisme. Adanya organisme tanpa adanya sel darah putih dipertimbangkan sebagai bakteriuria daripada dianggap sebagai infeksi.

BAB III

PATOFLOW

Hubungan seksual

Bakteri e. coli di anal

Berkoloni di vulva

Masuknya organisme kesaluran kemih

melalui uretra

Iritasi pada ureter

Inkopotensi katup vesikoureter

Menghambat aliran kemih

Infeksi pada ureter dan ginjal

Sering BAK

Inflamasi

Pelepasan zat pirogen oleh leukosit

Merangsang pusat termoregulator di hypotalamus

Sensasi panas

Pelepasan zat-zat vasoaktif

(serotinin, histamin, prostaglandin)

Merangsang reseptor nyeri

NDX : Nyeri

NDX : Hypertermi

NDX :

Intoleransi Aktivitas

BAB IV

KESIMPULAN

ü Ceftriaxone merupakan cepnalosporin spektrum luas semisintetik yang diberikan secara intravena atau intramuskular.

ü Ceftriaxone diindikasikan untuk pengobatan pada infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti :

1. Infeksi saluran napas bawah

2. Infeksi saluran kemih

3. Infeksi kulit dan jaringan lunak

4. Infeksi tulang dan sendi

5. Infeksi intra-abdominal

ü Berikatan dengan protein yang bersifat reversibel dan besarnya 85-95 %

ü Memiliki waktu paruh yang sangat panjang dan diekskresikan dalam urine dalam bentuk yang tidak diubah dan sisanya diekskresikan dalam empedu dan sebagian kecil feses.

BUKU SUMBER

- Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta 1996

Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan

Joyce L. Kee dan Evelyn R. Hayes

- Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner dan Suddarth

Edisi 8. Penerbit Buku Kedokteran 2001

- DOI

- Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta 1986

IPI (Informasi Akurat Produk Farmasi di Indonesia)

Dr. Henny Lukmanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar