Rabu, 13 Januari 2010

demam tifoid

DEMAM TIFOID

A. DEFINISI

Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi nodus peyer didistal ileum. Demam tifoid juga merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh salmonella typhi, yang ditandai dengan adanya demam 7 hari atau lebih, gejala saluran pencernaan dan gangguan pada sistem saraf pusat.

B. EPIDEMIOLOGI

Antara 300-500 kasus baru infeksi salmonella typhi dilaporkan terjadi setiap tahun di Amerika serikat.kebanyakan penderita demam tifoid berusia dibawah 20 tahun. Basil tifoid hanya menginfeksi manusia dan penderita tersebut akan mengekskresikan salmonella typhosa didalam sekret pernapasan, air kemih dan tinja dalam waktu yang berbeda-beda.secaa khas, karier tersebut adalah seorang dewasa , yang ungkin telah mengalami penyakit enterik dan mengalami kontak, serta sering kali sebagai orang yang menyiapkan makanan.penyebaran melalui air biasanya terjadi akibat pemasangan pipa air minum atau sanitasi yang tidak memadai dan hal ini menjadi penyebab kasus sporadis di Amerika serikat dan penyakit endemis dinegara-negara yang sedang berkembang.tiram dan kerang-kerangan yang diternakan didalam air yang tercemar air limbah dan dimakann tanpa dimasak sebelumnya hingga mencapai suhu sterilisasi, dapat berperan pula sebagai sumber-sumber cetusan serangan tifoid.

C. ETIOLOGI

Etiologi salmonella typhi yang berhasil diisolasi pertama kali dari seorang pasien demam tifoid oleh Gaffkey diJermam pada tahun 1884.mikroorganisme ini merupakan bakteri gram negative yang motil, bersifat aerob dan tidak membentuk spora.salmonella typhi dapat timbul dalam semua media, pada media yang selektif bakteri ini mengfermentasikan glukosa dan manosa,tetapi tidak dapat memfermentasikan laktosa.

D. PATOGENESIS

Pengkajian yang dilakukan pada sukarelawan dewasa yang diinfeksi oleh berbagai strain salmonella tphosa, menunjukan bahwa sejumlah 107 organisme dapat mengakibatkan penyakit pada 50% individu. Tetapi demam tifoid yang ditimbulkan oleh hanya 1000 organisme ini ;memberikan petunjuk bahwa trdapat perbedaan resisten pada hospes dan patogenisitas masing-masing strainterutama yang terdapat dialam bebas, berbeda yang digunakan dalam kotrol percobaan dilaboratorium.respon leukosit netrofil yang akan melepaskan prostaglandin, dibangkitkan oleh basil-basil tifoid, karena mereka tidak mempunyai aktivitas enterotoksin pada sel-sel epitel usus, yang akan mengaktivkan sistem adenilat siklase. Basl tifoid yang virulen menghambat metabolisme oksidatif pascafagosit neutrofil, berlawanan dengan strain tifoid yang avirulen dan bakteria lain.aktivitas ini memungkinkan organisme tersebut tahan terhadap destruksi didalam sel leukosit.pada awal penyakit, monosit tidak mampu menghancurkan basil tifoid dan juga berperan mengangkut organisme ini kedalam kelenjar linfe mesentrik dan bagian lain system retikuloendotelial , dimana terjadi pembiakan.bagian luar dinding salmonella merupakan kompleks lipopolisakarida. Ia mempunyai banyak sifat yang terpenting diantaranya adalah sifat pirogenisitas yaitu suatu sifat yang membuat endotoksin dapat digunakan untuk memperjelaskan patogenisitas dan tanda-tanda dan gejala-gejala dari bentuk sistemis infeksi salmonella.infiltrasi sel-sel monosit kedalam lamina propiria, bercak peyeri dan kelenjar linfe msentrik yang membesar.bercak-bercak merah muda merupakan lesi kulit yang kas, yang juga mempunyai gambaran monositik.bakteremia dalam demam tifoid secara kuantitatif berbeda dengan engan bakteremia dalam infeksi-infeksi yang disebabkan oleh basil gram negative lainnya.organisme ini dengan cepat menginfeksi peredaran darah dari tempat radang minimal ;usus halus proksimal terutama merupakan tempat invasi tersebut. Septicemia dapat dibersihkan oleh organ system retikuloendotel, terutama dimana bacteria berbiak dalam sel.karena itu radang lokal akan terjadi pada kelenjar linfe, hati dan linpa. Selanjutnya bakteri memasuki peredaran darah dari tempat-tempat ini.septikemia sakunder biasanya berlangsung lama dan organ akan ditunasi.Kandung empedu menghasilkan banyak salmonella yang kemudian dikeluarkan ke usus besar.

E. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi kinis dalam tifoid pada anak tidak khas dan sangat bervariasi.beberapa faktor yang dapat mempengaruhi manifestasi klinis dan beratnya penyakit adalah strain salmonella typhi, jumlah mikroorganisme yang tertelan, keadaan umum dan status nutrisi, status imunologik faktor genetic.pemberian antibiotic kususnya kloramfenikol dapat mengubah perjalanan penyakit , mengurangi komplikasi dan angka kematian. Dalam 48 jam setelah pemberian antibiotic penderita akan mengalami perasaan yang lebih baik dan dalam 4-5 hari suhu badan akan kembali normal. Namun kemungkinan masih ada penderita yang mengalami pendarahan an perforasi usus atau kekambuhan.

F. MASA INKUBASI

Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selam 7-14 hari bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimptomatis.

G. KOMPLIKASI

Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan pendarahan berat pada 1-10% pendeita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekaan darah serta kenaikan denyut nadi. Perforasi jarang terjadi tanpa didahului oleh perdarahan dan pada umumnya terjadi pada ileum bagian distal. Perforasi akan disertai peningkatan nyeri abdomen , nyeri tekan , munta-munta dan tanda-tanda peritonitis.dapat terjadi enselopati toksik atau trombosis serebri.kolesistitis akut yang dijumpai sering berupa pelebaran toksik kandung empedu.trombosis dan flebitis jarang terjadi.pbeumoni sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali selain. salmonella.piolonefritis, endokarditis, meningitis, osteomielitis dan atritis septic Jarang terjadi pada hospes normal

H. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

1.Darah :pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah lekosit normal, bisa menurun atau meningkat, kadang-kadang ditemukan adanya trobositopenia dan pada hitung jenis didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relative.gambaran darah lengkap yang mempunyai hubungan sigifikan dengan diagnosis demam tifoidadalah lekosit normal(OR =10,8), lekosit kurang dari 10.000 sel/ml, lekopenia dan limfositosis relative(OR= 11,8%).

2.Uji serologis : uji serologis widal mempunyai berbagai kelemahan baik sensitivitas dan spesifitasnya yang rendah maupun interprestasi yang sulit dilakukan.namun demikian hasil uji widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka yang demam tifoid.

3.Isolasi kuman : diagnosis pasti demam ifoid dilakukan dengan isolasi s typhi. Isolasi kuman penyebab demam tifoid dapat dilakukan dengan melakukan biakan dalam bebagai empat dalam tubuh.

I. PROGNOSIS DAN PENGOBATAN

Prognosis demam tifoid bergantung pada usia penderita , status kesehatan sebelumnya dan tipe komplikasi yang terjadi.penderita yang tidak mendapatkan pengobatan antibiotic dapat meninggal dunia. Pengobatan dengankloramfenikol berhasil menurunkan angka kematian.adanya penyakit dasar yang melemahkan, perforsi saluran cerna atau perdarahan hebat akan meningkatkan kematian.Kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit pada anak-anak yang menderita demam tifoid mempunyai arti penting.jika shyok menyertai perforasi usus atau perdarahan hebat, maka diperlukan plasma ekspander secara intravaskuler.kloramfenikol adalah antibiotic yang lebih disukai oleh kebanyakan ahli penyakit menular untuk pengobatan demam tifoid.obat ini dapat diberikan secara oral, tetapi pemberian intravena diindikasikan pada penderita yan mengalami sakit akut.kloramfenikol diberikan secara intramuskuler.dosis 50- 100mg/kg/24 jam diberikan kepada anak-anak dan dosis 25mg/kg/24 jam diberikan kepada bayi berusia kurang dari 2minggu yang terbagi dalam 4 dosis dan diberikan dengan selang waktu 6 jam.komplikasi berupa pandarahan dan perforasi usus dapat terjadi selama pengobatan. Pengobatan koramfenikol dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kekambuhan dan tidak dapat mencegah terjadinya karier kronis.

Pengobatan dengan ampicilin mengakibatkan respon linis yang lebih lambat serta lebih banyak kegagalan dibandigkan dengan pengobatab koramfenikol.ampisilin sebaiknya digunakan dalam dosis 100-200mg/kg/24 jam ,terbagi dalam selang waktu 6 jam.kombinasi sulfametokonazol dan trimetropim efektif terhadap demam tifoid.

Pengobatan dengan kortikosteroid dianjurkan diberikan kepada penderita toksemia berat atau pederita dengan gejala berkepanjangan.kortikosteroit tidak meningkatan insiden komplikasi yang terjadi, jika pengobatan antibiotika yang diberikan memadai trombositopenia dapat terjadi cukup berat dan berperan pada pendarahan usus. Pada kasus demikian dianjurka pemberian transfuse trombosit, bila akan dilakukan pembedahan pengobatan dengan ampicilin dosis tinggi selama 4-6 minggu, berhasil menyembuhkan para karrier termasuk yang mengalami kolesistitis.

J. PENCEGAHAN

Kekebalan terhadap demam tifoid bersifat relative. Demam tifoid merangsang resistensi penjamu dengan cara meningkatkan aktivitas fagositik non spesifik temporer didalam system retikuloendotel maupun meningkatkan aktifitas bakterisidal spesifik yang berlangsung lama dalam bentuk antibody tipe spesifik. Antibody akan meningkatkan kekebalan penjamu dengan cara meperlambat multiplikasi bakteri ekstraseluler dan memacu obsonisasi, tetapai kerentanan terhadap serangan awal demam tifoid atau berikutnya

Tidak terdapat indikasi untuk memberikan vaksin parenteral secara rutin kepada anak-anak. Meskipun aksin yang ada mencegah mencegah penyakit pada banyak individu yang terpapar sejumlah kecil basil tifoid seperti pada penyakit yang ditularkan melalui air, tetapi pemaparan terhadap sejumlah besar inokulum dapat mengatasi kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin. Dosis 0,5 ml vaksin yang diberikan secara subkutan dianjurkan sebagai imunisasi primer dan imunisasi boster baagi individu berusia 10 tahun atau lebih. Sedangkan dosis tambahan 0,25ml dianjurkan bagi anak-anak berusia lebih mudah.

K. PENGENDALIAN INFEKSI

Perhatian terhadap kebersihan pribadi, encucian tindakan dan tindakan-tindakan sanitasi, merupakan hal –hal penting bagi semua personil terlibat dalam mempersiapkan makanan seta pada perawtn penderita,terutama,untuk memperkeil penularan dari orang keorang dan dari orang kemakanan. Air kemih serta tinja pada penderita yang dirawat hendaknya ditangani secara hati-hati hingga hasil biakan tinja 3 kali beurutan memberikan hasil negatif


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan tuntunanNya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Keperawatan Anak , yang dapat di sajikan untuk mahasiswa keperawatan sebagai pegangan praktek diklinik.

Dalam makalah ini kami kelompok menampilkan salah satu macam penyakit tentang gambaran penyakit yang dapat memudahkan pemahaman tentang gambaran patofisiologi sehingga memberikan kemudahan dalam menentukan gambaran penyakit kususnya “DEMAM TIFOID”.

Semoga makalah inin dapat membantu mahasiswa keperawatan dalam mengaplikasikan penerapan Asuhan Keperawatan Anak berdasarkan gangguan kesehatan yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Soegijanto, soegeng.” ILMU PENYAKIT ANAK”, Diagnosa dan Penatalaksanaan.2002, penerbit Salemba Medika.

Behrman, Richard E.”ILMU KESEHATAN ANAK”. 1993. Penerbit Buku Kedokteran EGC, bagian 2.

Suriadi, SKp & Rita Yuliani SKp”ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK”.2001, edisi 1, Penerbit CV. Sagung Seto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar