Rabu, 13 Januari 2010

DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)

DENGUE HAEMORAGIC FEVER
(DHF)


A. DEFINISI
Dengue Haemoragic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (betina)

B. ETIOLOGI
Gigitan nyamuk Aededs Aegypti yang membawa virus dengue (sejenis arbovirus)

C. TINJAUAN FISIOLOGI
Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limfa. Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena berbentuk cairan.
Cairan darah tersusun atas komponen sel yang bersuspensi dalam plasma darah. Sel darah dibagi menjadi eritrosit (sel darah merah, normalnya 5 ribu per mm3 darah) dan lekosit (sel darah putih, normalnya 5 ribu sampai 10 ribu per mm3 darah). Terdapat sekitar 500 sampai 1000 eritrosit tiap satu lekosit. Lekosit dapat berada dalam beberapa bentuk : eosinofil, basofil, monosit, netrofil, dan limfosit. Selain itu dalam suspensi plasma, ada juga fragmen-fragmen sel tak berinti yang disebut trombosit (normalnya 150.000 sampai 450.000 trombosit per mm3 darah). Komponen seluler darah ini normalnya menyusun 40% sampai 45% volume darah. Fraksi darah yang ditempati oleh eritrosit disebut hematokrit. Darah terlihat sebagai cairan merah, opak dan kental. Warnanya ditentukan oleh hemoglobin yang terkandung dalam sel darah merah.
Volume darah manusia sekitar 7% sampai 10% barat badan normal dan berjumlah sekitar 5 Liter. Darah bersikulasi di dalam sistem vaskuler dan berperan sebagai penghubung antara organ tubuh, membawa oksigen yang diabsorbsi oleh paru dan nutrisi yang diabsorbsi oleh traktus gastrointestinal ke sel tubuh untuk metabolisme sel.
Darah juga mengangkut produk sampah yang dihasilkan oleh metabolisme sel ke paru, kulit dan ginjal yang akan ditransformasi dan dibuang keluar dari tubuh. Darah juga membawa hormon dan antibodi ke tempat sasaran atau tujuan
Untuk menjalankan fungsinya, darah harus tetap berada dalam keadaan cair normal. Karena berupa cairan, selalu terdapat bahaya kehilangan darah dari sistem vaskuler akibat trauma. Untuk mencegah bahaya ini, darah memiliki mekanisme pembekuan yang sangat peka yang dapat diaktifkan setiap saat diperlukan untuk menyumbat kebocoran pada pembuluh darah.
Pembekuan yang berlebihan juga sama bahayanya karena potensial menyumbat aliran darah ke jaringan vital. Untuk menghindari komplikasi ini, tubuh memiliki mekanisme fibrinolitik yang kemudian akan melarutkan bekuan yang terbentuk dalam pembuluh darah.

D. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemia di tenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin terjadi pada sistem retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar, antara lain getah bening, hati dan limpa. Ruam pada demam fever disebabkan oleh kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomen patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan demam fever dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafiluktoksin, histamin dan serotin serta akuasi sistem kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat mengurangnya volum plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoprotoinemia, efusi dan renjatan plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat permulaan demam mencapai puncaknya pada saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat menurun sampai lebih dari 30%
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskular dibuktikan dengan ditemukan cairan didalam rongga serosa, yaitu rongga peritenium, pleura dan perikard yang pada autopsi ternyata melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infus. Renjatan hipovelemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoreksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Perdarahan pada DHF umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan sistem koagulasi.
Trombositopenia yang dihubungkan dengan meningkatnya megakariosit (sel trombosit) muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit menimbulkan dugaan meningkatnya distruksi trombosit.

E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis yang timbul barvariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi antara 13-15 hari. Penderita biasanya mengalami :
 Demam akut ( SB tiba-tiba), menggigil, perdarahan pada saat demam, perdarahan seperti (petokie, ekimosis, hematomepitaksis, hematemasis, hematuria dan melena)
 Keluhan pada saluran pernapasan seperti batuk, pilek, sakit menelan.
 Keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi
 Keluhan yang lain seperti : nyeri kepala, nyeri otot, tulang dan sendi (break bone fever), nyeri abdomen, nyeri pada ulu hati, pegal-pegal seluruh badan, kemerahan pada kulit, kemerahan pada muka, pembengkakan disekitar mata, sakit bila disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal.
 Hepatomegali, splenomegali, dan pembesaran getah bening yang akan kembali normal pada masa penyembuhan.
 Pada penderita yang mengalami renjatan akan mengalami sianosis perifer (ujung jari dan bibir), kulit lembab dan dingin, hipotensi, nadi cepat dan lemah.

F. KLASIFIKASI DHF
 Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan uji tourniquet+ , trombositopenia, dan hemokonsentrasi.
 Derajat II : Derajat I dan disertai perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis hematemesis, melena, perdarahan gusi.
 Derajat III : Kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat >120 x/menit, tekanan darah 
 Derajat IV : Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Darah lengkap : Hemokonsentrasi (hematokrit  20% atau lebih),
Trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang)
• Serologi : Uji HI (hemaaglutinotion inhibition test)
• Rontgen thorax : Efusi pleura

H. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
• Minum banyak 1,5 – 2 liter/ 24 jam dengan air teh, gula atau susu
• Antipiretik jika terdapat demam
• Antikonvulsan jika terdapat kejang
• Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat

I. PENCEGAHAN
Untuk memutuskan rantai penularan, pemberatasan vektor dianggap cara paling memadai.
 Menggunakan insektisida
Yang lazim digunakan yaitu malathion untuk membunuh nyamuk dewasa (adultisida) dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Untuk pemakaian rumah tangga dapat digunakan berbagai jenis insektisida yang disemprotkan di dalam kamar/ruangan mis : golongan organofosfat, karbonat atau pyrethiroid

 Tanpa Insektisida
• Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1x seminggu (perkembangan telur ke nyamuk lamanya 7-10 hari)
• Menutup tempat penampungan air rapat-rapat
• Membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng bekas, botol-botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

Isolasi pasien agar pasien tidak digigit vektor untuk ditularkan kepada orang lain sulit dilaksanakan lebih awal dari perawatan di rumah sakit karena kesulitan praktis.
Mencegah gigitan nyamuk dengan cara memakai obat gosok/repellant maupun pemakaian kelambu memang dapat mencegah gigitan nyamuk, tetapi cara ini dianggap kurang praktis.
Imunsasi maupun pemberian anti-virus dalam usaha memutuskan rantai penularan, saat ini baru dalam taraf penelitian

DAFTAR PUSTAKA


• Effendy Christante. 1995. Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC hal 1-8.

• Noer Syafoellah. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi 3, Jakarta, FKUI. Hal 417-426

• Smeltzer Suzanne dan Bare Brenda. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, volume 3. Jakarta, EGC, Hal 926-927

• Supriodi dan Yuliani Rita. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi I. Jakarta, Inter Pratama, Hal 57-62


TINJAUAN KASUS
Tanggal masuk RS :
Tanggal pengkajian :
No Reg :
Bagian :
Dx Medis : DHF

I. Biodata.
• Biodata pasien
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Alamat :
• Biodata penanggung
Nama :
Jenis kelamin :
Alamat :
Hubungan dengan pasien :

II. Riwayat Kesehatan
A. Riwayat Kesehatan Sekarang
• Keluhan utama saat masuk RS
Pasien mengatakan ± 5 hari panas, nyeri ulu hati, mual dan muntah (muntah 1 kali berisi makanan pada tanggal 13 April 2009)
• Kapan keluhan utama muncul : ± 5 hari yang lalu
• Keluhan utama saat dikaji : Pasien mengatakan nyeri ulu hati
• Keluhan yang menyertai : Pasien mengatakan badan terasa panas, rasa mual dan muntah (pasien muntah 3 kali berisi cairan)
• Tindakan yang sudah diambil untuk mengatasi keluhan utama yaitu pasien dibawah ke RS .......... (pada tanggal 13 April 2009) dan kemudian dirujuk ke RS .....
• Khusus nyeri : Lokasi : Ulu hati
Karateristik : Seperti ditusuk-tusuk
Sifat : Hilang timbul
Skala : 6
Intensitas : Nyeri sedang

B. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
• Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah mengalami sakit yang sama (DHF)
• Pasien mengatakan alergi jika makan daging ayam dan daging babi karena setelah makan akan timbul bintik-bintik merah dikulit
• Pasien mengatakan sering mendapat sakit maag

III. Pemeriksaan Fisik
• Keadaan Umum lemah
• Kesadaran komposmentis  skala koma glasgow
Membuka mata spontan 4
Respon verbal 5
Respon pengamatan 6
15
• Ekspresi wajah meringis
• Vital Sign : TD : 100/70 mmHg R : 20 kali/menit
N : 92 kali/menit SB : 380 C
• Pemeriksaan Head To Toe
1. Kepala dan wajah : Bentuk kepala mesochepal, muka tampak merah, tidak ada luka, tidak ada pembengkakan, tidak ada nyeri tekan
2. Mata : Simetris kiri dan kanan, sklera tidak icterus, tidak strabismos, konjungtiva tidak anemis, fungsi penglihatan baik.
3. Hidung : Lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada polip, tidak ada sekret, tidak ada nyeri tekan, fungsi penciuman baik.
4. Telinga : Simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, pendengaran baik.
5. Rongga mulut & gigi : Tidak ada peradangan gusi, mukosa berwarna merah muda dan tampak kering, gigi tidak ompong, tidak ada sariawan.
6. Leher : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak kaku kuduk
7. Dada : Ekspansi dada sama kiri dan kanan, tidak ada nyeri tekan
8. Abdomen : Tidak ada luka, tidak teraba masa, ada nyeri tekan di daerah epigastrum
9. Kulit : Warna kulit kuning lansat, turgor elastis, ada petekie di kulit
10. Rectum : Tidak ada hemoroid, tidak ada tanda-tanda peradangan
11. Genitalia : Tidak ada penyakit kelamin, keadaan genitalia bersih
12. Ekstremitas atas : Tangan kiri terpasang IVFD RL 30tts/menit ada pembatasan gerak karena terpasang IVFD, tangan kanan dapat digerakkan dengan baik, tidak ada nyeri tekan dan tidak edema.
Uji kekuatan otot dengan cara melawan tahanan nilai 5 = mampu menahan sedikit dorongan.
13. Ekstremitas bawah : Dapat digerakkan, tidak terdapat luka.

IV. Pola Kegiatan Sehari-hari
A. Nutrisi
• Sebelum sakit, pasien makan dengan frekwensi 3x sehari, jenis makanan nasi, ikan, sayur dan buah. Porsi makanan dihabiskan, jumlah air yang diminum ± 8 gelas/hari (± 2000 cc), jenis air putih.
• Setelah masuk rumah sakit frekwensi makan 3x sehari, jenis makanan bubur, porsi makan tidak dihabiskan, pasien hanya makan ± 4 sendok makan, jumlah air yang diminum ± 8 gelas/hari (± 2000 cc), jenis air putih.
Pasien mengatakan tidak ada selera makan, pasien mengatakan setiap makan dan minum terasa mual dan muntah (pasien muntah 3 kali berisi cairan)

B. Eliminasi
BAB : Sebelum masuk RS  Frekwensi 1-2 kali sehari, konsistensi lembek, warna kuning dan bau busuk.
Saat dikaji  Frekwensi 1 kali sehari, konsistensi cair, warna kuning dan bau busuk

BAK : Sebelum masuk RS  Frekwensi 5-6 kali sehari, warna bening, bau amoniak. 1000-1500 cc/hari
Saat dikaji  Frekwensi 5-7 kali sehari, warna kekuningan, bau amoniak (± 1080-1680 cc/hari)

C. Aktivitas
Pasien mengatakan badan rasa lemah, semua kebutuhannya dilayani di atas tempat tidur oleh perawat dan keluarga seperti makan, minum dan mandi

D. Istirahat dan Tidur
• Sebelum sakit : Istirahat siang tidak teratur, tidur malam pukul 22.00-05.00 ± 9 jam, keluhan tidak ada
• Setelah masuk RS : Istirahat siang tidak menentu, tidur malam pukul 22.00-01.00, suami pasien mengatakan pada pukul 01.00 pasien terbangun karena nyeri ulu hati dan tidur kembali pada pukul 02.30, dan bangun pada pukul 05.00. Pasien tidur ± 6½ jam



E. Personal Hygiene
Waktu dikaji pasien belum mandi, kulit nampak bersih, kuku tangan panjang dan kotor, kuku kaki pendek, ganti pakaian 1-2 kali sehari. Pasien mengatakan sebelum datang ke RS pasien mandi

F. Data Interaksi Sosial
Hubungan dengan pasien lain baik, hubungan dengan keluarga baik, hubungan dengan tenaga kesehatan baik. Pasien mudah diajak berkomunikasi

G. Data Spiritual
Agama yang dianut Kristen Protestan, pasien mengatakan selalu mengikuti ibadah Kolom dan arisan ibu-ibu

H. Data Psikologis
Ekspresi wajah meringis, tanggapan pasien terhadap penyakit sangat mengganggu, harapa klien tentang penyakitnya cepat sembuh, dan dapat kembali ke rumah dan beraktivitas.

V. Data Pemeriksaan Laboratorium
Parameter Result Vart Flags Normal

WBC
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
PLT
7,40
5.760.000
15,6
45,8
79,5
27,1
34,1
32.000
10^ 3U/L
10^ 6U/L
9/1
%
FL
P9
9/1
10^ 3U/L
4,0-10,1
4,0-6,0
12,0-16,0
36-50
86-99
27-31
33-37
150-450


VI. Therappy
 Ceftriaxone 1x1 gr/IV
Komposisi : Tiap vial mengandung ceftriaxone disodium setara dengan ceftriaxone 1gr
Indikasi : Infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif dengan ceftriaxone, seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi THT, infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis dan infeksi pada pasien dengan gangguan pertahanan tubuh.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap sefalasporin dan ceftriaxone

 OMZ injeksi (omeprazole 40 mg) 2x40 mg/IV
Komposisi : Omeprazole sodium 42,6 mg
Setara dengan Omeprazole 40 mg
Indikasi : Merupakan terapi pilihan untuk kondisi berikut yang tidak dapat menerima pengobatan peroral : Ulkus duodenum, ulkus gaster, esofagitis ulseratif dan sindrom zoolinger Ellrson
Kontraindikasi : Hipersensitif dengan omeprazole sodium

 Ciprofloxacin 1x100 ml/IV
Komposisi : Tiap ml mengandung ciprofloxacin lactate setara dengan ciprofloxacin base 2,0 mg
Indikasi : Untuk pengobatan infeksi berat pasien rawat inap rumah sakit yang tidak bisa diberi ciprofloxacin oral atau pemberian oral tidak tepat. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap ciprofloxacin pada :
Prostatitis, uretritis dan servisitis gonorrhoea, thypoid, pneumonia, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi tulang dan sendi.
Kontraindikasi : - Penderita yang hipersensitif terhadap ceprofloxacin atau antibiotik derivat kuinolon lainnya.
- Wanita hamil dan menyusui
- Anak-anak dibawah usia 18 tahun

 Cefarox 2x100 mg/hari
Komposisi : Tiap kapsul mengandung cefixime 100mg
Indikasi : Infeksi saluran kemih disebabkan oleh Escherichia pyogenes bronkitis akut.
Kontraindikasi : Penderita dengan riwayat shock atau hipersensitif terhadap beberapa bahan dari sediaan ini

 Trolit 4 gr (serbuk)
Indikasi : Membantu memperbaiki daya tahan tubuh serta membantu mengambalikan cairan tubuh dan elektrolit yang hilang

 Sumagesic 3x600 mg/hari
Komposisi : Setiap tablet mengandung paracetamol 600 mg
Indikasi : Untuk menyembuhkan rasa sakit termsuk sakit kepala, dan menurunkan demam yang menyertai flu, masuk angin, tonsilitis, tuberkulosis dan infeksi lainnya.
Kotraindikasi : Pasien yang hipersensitif dengan parasetamol

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar